Do That U Wanna Do……..????

Ketika suatu alam pemikiran manusia yang tak pernah habis tuk mencari, mencipta baik rasa, dan karsa dan sebagian dia tuangkan yang katanya bisa dari segi keindahan, ilmu penegetahuan, sosial atau beberapa hal yang mungin akan menggugah semangat untuk menemukan terobosan terbaru yang bisa membuat dunia mengakuinya.

Ya itulah keunikan yang dimliki oleh manusia yang Tuhan ciptakan tak sama dengan makhluk yang lain yang hanya mempunyai nafsu. Manusia diberikan segala yang dibutuhkan untuk mengembangkan  dunia ini dan juga memperbaiki segala yang telah dirusak oleh para leluur kita yang tidak tahu tentang makna dari “jeritan” bumi yang bisa berupa bencana alam tau segalanya yang memperingatkan manusia akan keberadaannya, akan perasaannya yang selama menjerit. ( ya sekian dulu pembukaannya yach)

Oya dengan segala kemampuan yang Tuhan berikan sama kita lebih baik kita gunakan untuk membantu sesama tapi jangan membantu sesama yang gak terlalu membutuhkan bantuan itu ( Do That U Wanna Do). Gini maksudnya kita membantu itu boleh tapi lihat dulu apa yag orang kita bantu itu tepat sasaran gak untuk dibantu.

Suatu polemik yang sering terjadi di negara ini adalah berkebalikan dengan teori kemanusiaan yang membantu yang lemah dan yang lebih membutuhakan tapi yang terjadi apa ! Bantuan itu teruntuk yang “gak mampu” moralnya alias apa ya susah nih nulisnya ntar di cekal lagi hahahhaaaaa……….. hahahhaaa, yo wes pokonya geto deh…….

Emang sih kadang manusia itu kalah ama yang namanya uang alias duit ato bahasa dunianya money…… Ya ngasih bantuan yang berujung duit, Emang suh segala sesuatu itu gak gratis alias free of charge tapi klo u dah pada pikir diuttttttttttt eh salah duitttttttttttttt aja ya bisa berabe ya gak. Ya mungkin duit bisa membeli hati tapi sebenarnya gak bisa membeli hati nurani kecuali yang telah “tergadaikan”.

Bangsa tempe yang susah dapet tempe

Wwawaaaaaaaaaaaaaahhhh sekarang indonesia udah amat sangat terpuruk………………..sekali ya……………… Kita dulu di katain bangsa tempe………….gak papa deh klo soal itu sebab tempe adalah sumber protein yang murah nan bergizi……………… karena kandungan di dalam kedelai dah di rombak ama mikroorganisme yang bersahabat dengan kita semua………………

Ou………..ya kita balik ke topik bangsa tempe, bayangngin aja sekarang udah mahal baget tuk dapetin tempe……………………..karena kedelai IMPORTnya udah jarang………………..ya lagi2 perang POLITIK………..cape deh…………oya harga tempe yang melambung akibat bahan dasarnya yang berupa kedelai menjadi langka di pasaran……………….kita yang bangsa tempe malah susah tuk dapetin tempe, padahal aku suka tempe lho…………..ya aku kan suka indonesia dan aku cinta negeriku……………

Apa yang meyebabkan harga naik (menurutku lho……… gak tau menurut orang laen………) :

  1. terlalu tergantung ama yang namanya import,padahal dulu kita yang eksport ke mana-mana ( kayaknya bangsa kita harus introspeksi diri terutama yang jadi wakil kita di parlemen yang jangan cuman egois aja……….uhhhhhhhhhhhh cape deh)
  2. gak mau kembali ke asal, kita itu negara pertanian, harusnya kita lebih fokus ama yang namanya teknologi yang mendukung pertanian………………… ( yang sok modern dehhhhhhh………. sok nanoteknologi………….)
  3. kita terlalu terpaku dan terbegong serta terkagum dan ingin memiliki jika melihat negara laen memproduksi barang baru such as mobil, hp, baju, dll…………….. harusnya kita terpacu untuk mengejar ketertinggalan dan jangan cuman kagum aja sama orang…………
  4. Hilangin deh pemalesssssssnya ( sebenarnya aku juga pemalessss ding……….)
  5. saring klo ada budaya asing, jngan langsung caplok aja………………

( Ini hanya unek2ku saja jangan diambil hati ya…………….. tapi resapi saja dan mari kita berubah jika kita sadar akan hal yang demikian……………….. karena bukan cuman aku yang menyadari………….kita semua menyadari tapi…………….yaaaaaaaaaaaa pura2 gak tau aja…………..klo liat yang kayak ginia………n)

PEACE & LOVE

(Allah Bless U All)

DRACULA ( Believe it OR NOT)

Kisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh bentuk penjajahan sejarah yang begitu nyata yang dilakukan Barat. Kalau film Rambo merupakan suatu fiksi yang kemudian direproduksi agar seolah-olah menjadi nyata oleh Barat, maka Dracula merupakan kebalikannya, tokoh nyata yang direproduksi menjadi fiksi. Bermula dari novel buah karya Bram Stoker yang berjudul Dracula, sosok nyatanya kemudian semakin dikaburkan lewat film-film seperti Dracula’s Daughter (1936), Son of Dracula (1943), Hoorof of Dracula (1958), Nosferatu (1922)*yang dibuat ulang pada tahun 1979*dan film-film sejenis yang terus-menerus diproduksi.

Lantas, siapa sebenarnya Dracula itu?

Dalam buku berjudul “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, sosok Dracula dikupas secara tuntas. Dalam buku ini dipaparkan bahwa Dracula merupakan pangeran Wallachia, keturunan Vlad Dracul. Dalam uraian Hyphatia tersebut sosok Dracula tidak bisa dilepaskan dari menjelang periode akhir Perang Salib. Dracula dilahirkan ketika peperangan antara Kerajaan Turki Ottoman*sebagai wakil Islam*dan Kerajaan Honggaria*sebagai wakil Kristen*semakin memanas. Kedua kerajaan tersebut berusaha saling mengalahkan untuk merebutkan wilayah-wilayah yang bisa dikuasai, baik yang berada di Eropa maupun Asia. Puncak dari peperangan ini adalah jatuhnya Konstantinopel* benteng Kristen*ke dalam penguasaan Kerajaan Turki Ottoman.

Dalam babakan Perang Salib di atas Dracula merupakan salah satu panglima pasukan Salib. Dalam peran inilah Dracula banyak melakukan pembantain terhadap umat Islam. Hyphatia memperkirakan jumlah korban kekejaman Dracula mencapai 300.000 ribu umat Islam. Korban-korban tersebut dibunuh dengan berbagai cara*yang cara-cara tersebut bisa dikatakan sangat biadab*yaitu dibakar hidup-hidup, dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula. Penyulaan merupakan cara penyiksaan yang amat kejam, yaitu seseorang ditusuk mulai dari anus dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya dilancipkan. Korban yang telah ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula menembus hingga perut, kerongkongan, atau kepala. Sebagai gambaran bagaimana situasi ketika penyulaan berlangsung penulis mengutip pemaparan Hyphatia:

“Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulai. Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan cekatakan seolah robot yang telah dipogram. Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan jerit penderitaan segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat Islam yang malang ini sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami.”

Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban penyulaan, tapi juga bayi. Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai berikut:

“Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka langsung sekarat begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajal.”

Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini disembunyikan oleh Barat. Menurut Hyphatia hal ini terjadi karena dua sebab. Pertama, pembantaian yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak bisa dilepaskan dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada masa Perang Salib menjadi pendukung utama pasukan Salib tak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol mengorek-ngorek pembantaian Hilter dan Pol Pot akan enggan membuka borok mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin menang sendiri. Kedua, Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Betapapun kejamnya Dracula maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya. Dan, sampai saat ini di Rumania, Dracula masih menjadi pahlawan. Sebagaimana sebagian besar sejarah pahlawan-pahlawan pasti akan diambil sosok superheronya dan dibuang segala kejelekan, kejahatan dan kelemahannya.

Guna menutup kedok kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan siapa sebenarnya Dracula. Seperti yang telah dipaparkan di atas, baik lewat karya fiksi maupun film, mereka berusaha agar jati diri dari sosok Dracula yang sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha Barat untuk mengubah sosok Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran keberhasilan ini dapat dilihat dari seberapa banyak masyarakat*khususnya umat Islam sendiri*yang mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Bila jumlah mereka dihitung bisa dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka mengetahui tentang Dracula bisa dipastikan bahwa penjelasan yang diberikan tidak akan jauh dari penjelasan yang sudah umum selama ini bahwa Dracula merupakan vampir yang haus darah.

Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh Barat, dalam bukunya Hyphatia juga mengupas makna salib dalam kisah Dracula. Seperti yang telah umum diketahui bahwa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak bisa dilepaskan dari dua benda, bawang putih dan salib. Konon kabarnya hanya dengan kedua benda tersebut Dracula akan takut dan bisa dikalahkan. Menurut Hyphatia pengunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus pahlawan dari musuh mereka*pahlawan dari pihak Islam*dan sekaligus untuk menunjukkan superioritas mereka.

Siapa pahlawan yang berusaha dihapuskan oleh Barat tersebut? Tidak lain Sultan Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang Sultan merupakan penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula. Ialah yang telah mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi Danua Snagov. Namun kenyataan ini berusaha dimungkiri oleh Barat. Mereka berusaha agar merekalah yang bisa mengalahkan Dracula. Maka diciptakanlah sebuah fiksi bahwa Dracula hanya bisa dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini selain hendak mengaburkan peranan Sultan Mahmud II juga sekaligus untuk menunjukkan bahwa merekalah yang paling superior, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus Darah. Dan, sekali lagi usaha Barat ini bisa dikatakan berhasil.

Selain yang telah dipaparkan di atas, buku “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, juga memuat hal-hal yang selama tersembunyi sehingga belum banyak diketahui oleh masyarakat secara luas. Misalnya tentang kuburan Dracula yang sampai saat ini belum terungkap dengan jelas, keturunan Dracula, macam-macam penyiksaan Dracula dan sepak terjang Dracula yang lainnya.

Sebagai penutup tulisan ini penulis ingin menarik suatu kesimpulan bahwa suatu penjajahan sejarah tidak kalah berbahayanya dengan bentuk penjajahan yang lain*politik, ekonomi, budaya, dll. Penjajahan sejarah ini dilakukan secara halus dan sistematis, yang apabila tidak jeli maka kita akan terperangkap di dalamnya. Oleh karena itu, sikap kritis terhadap sejarah merupakan hal yang amat dibutuhkan agar kita tidak terjerat dalam penjajahan sejarah. Sekiranya buku karya Hyphatia ini*walaupun masih merupakan langkah awal*bisa dijadikan pengingat agar kita selalu kritis terhadap sejarah karena ternyata penjajahan sejarah itu begitu nyata ada di depan kita.[*]